Kisahku Berakad dengan PGSD-UMS

UMS, jika mungkin ada yang menjadikannya sebagai tempat pelarian, maka aku akan menjadikannya sebagai tempat pengabdian. Aku bangga.

Sebenarnya UMS memang bukan tujuan utama setelah aku lulus SMA. Aku ingin ke Ma’had. Ya! Aku ingin ke Ma’had bersama seorang sahabat dari SMP, aku ingin kita berdua menimba ilmu di salah satu ma’had yang ada di daerah Jawa Timur, aku yang sedari kecil dididik dalam sekolah Negeri, ingin sekali merasakan kehidupan di sebuah dunia yang beda, dunia Ma’had. Namun, karena Allah hanya mengizinkan sahabatku yang pergi kesana, aku mengalah. Ini rencana-Nya.

Entah mendapat inspirasi darimana, aku tertarik untuk memasuki dunia kependidikan, yang bahkan sebelumnya tidak pernah aku fikirkan dan UMS, kampus pertama yang Allah condongkan pada hatiku untuk menetap dan bermukim menjadi salah satu mahasiswinya.

Unik memang, awal mula aku dalam memilih jurusan. Dari rumah, aku tetapkan hati untuk memilih jurusan Twinning Program (Psikologi-PAUD), setelah lulus tes, saat akan pulang, aku disuguhi selebaran bertuliskan “Pesantren Mahasiswa K.H Mas Mansur”. Duh, hatiku dag dig dug, kata-kata ‘pesantren’ membuat aku semakin penasaran. Lalu, dengan malu-malu kucing kuutarakan maksud hati pada orangtua. Akhirnya sepakat!

Dengan segala pertimbangan aku harus pindah jurusan untuk bisa memasuki ‘pesantren mahasiswa’ itu.

Bismillaah, aku kembali tes. kali ini, jurusan yang aku pilih adalah PAUD, setelah berlelah-lelah mengerjakan tes, akhirnya nilai 70 pun menjadi milikku. Karena nilai itu aku sempat ditawari ‘Farmasi’, aku langsung kecut kukatakan dalam hati, “Farmasi? Oh maaf imanku tidak akan goyah untuk tetap memilih dunia pendidikan.”

Kemudian, detik-detik yang sangat merubah masa depanku dalam dunia perkuliahan.

Jadi, ceritanya saat aku ingin ke tempat fotocopy-an untuk melengkapi syarat-syarat daftar ulang, ada seorang kakak tingkat entah dari prodi apa, rumahnya dimana, siapa namanya, yang aku tahu dan aku pahami Allah mengirimkan beliau untuk memberitahuku sesuatu hal yang sangat berpengaruh dalam perkuliahanku kedepan. Ingat! Ini bukan sebuah kebetulan. Semua sudah dirancang dan direncanakan oleh-Nya.

“Eh tau nggak sih, masa PGSD itu dari akred. C langsung ke A” kata seorang kakak tingkat.

“Iya i. nggak nyangka banget. Katanya UMS itu kampus pertama yang menyandang akred. A untuk prodi PGSD” kata kakak tingkat yang satunya lagi.

“Kita aja yang akred. B mau naik ke A susah banget. Lha ini?” kata seorang kakak tingkat yang tadi bertanya.

Jantungku berdebar. Terbesit hati, ‘Apa PGSD saja ya?’ Entah, hatiku menjadi bimbang. Ku timbang-timbang dalam diam sambil menunggu fotocopy-an.

“Mas, bisa ganti prodi lagi ndak?” kataku pada mas-mas yang mengurusi pendaftaran sesampainya aku dari tempat fotocopy-an tadi.

“Mau pindah kemana lagi mbak?” kata mas-mas tersebut. Mungkin yang difikirkan mas-masnya ‘Ini calon mahasiswa nggak punya pendirian banget. Dulu Psikologi-PAUD, terus ke PAUD, ini mau kemana lagi coba?’ hehe, maaf mas.

“Jadi boleh pindah lagi mas?”

“Iya boleh.”

Akupun menuruni tangga untuk melakukan rapat kecil dadakan dengan Ayah. Setelah sepakat akupun naik tangga lagi.

“Mas, PGSD saja”

“Oke”

Setelah melewati prosedur dan persyaratan, akupun akhirnya mendapat tempat mahasiswi. Ya, mahasiswi PGSD UMS.

Alhamdulillaah, Allah tahu yang terbaik. Di UMS, banyak targetku yang telah tercapai. Seperti ingin menghafal juz 30, di prodi PGSD sendiri karena salah satu syarat ujian skripsi adalah hafal juz 30 dan setiap dimulainya mata kuliah selalu membaca juz ‘amma, maka ini akan sangat mudah untuk memacuku dalam mewujudkan ‘Hafal Juz 30, syukur bisa lebih. Aamiin, In Syaa Allaah’, tentang dosennyapun, menurutku tidak ada yang disebut dosen maut ataupun dosen killer, di prodi PGSD sendiri yang aku rasakan dosennya begitu bersahabat, tepat waktu, dan murah senyum.

Mungkin UMS adalah bait balasan doaku dari Allah. Semoga UMS semakin maju, tidak hanya dengan prestasi, namun juga dengan akhlak yang mulia. Karena percuma berprestasi tanpa memiliki kemuliaan akhlak, walau tidak aku katakan kemuliaan akhlak tanpa prestasi adalah percuma. Semoga Allah melancarkan, semoga Allah memudahkan. UMS selalu kudoakan.

 

Universitas Muhammadiyah Surakarta,

_Wacana Keilmuan dan Keislaman_

Setiap Nikmat

tulip.jpgSetiap hembusan nafas ini; adalah nikmat…

Setiap kedipan mata ini; adalah nikmat…

Setiap langkah ini; adalah nikmat…

Setiap airmata yang tertumpah untuk-Mu; adalah nikmat…

Setiap senyuman yang ku sunggingkan pada seluruh manusia untuk mencari keridloan-Mu; adalah nikmat…

Setiap keikhlasan dan kesabaran; adalah nikmat…

Setiap makanan yang tertelan; adalah nikmat…

Setiap minuman yang terteguk; adalah nikmat…

Setiap… Setiap… dan setiap…

Duhai, begitu banyak nikmat-Mu…

Hingga tak dapat ku hitung dan kusebutkan satu per satu…

Maha Sempurna Engkau yang telah menganugerahi diri ini hati dan akal…

 

“Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan” (QS. Ar-Rahmaan:13)

“Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan” (QS. Ar-Rahmaan:13)

“Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan” (QS. Ar-Rahmaan:13)